Becak Listrik, Menyatukan Warisan Budaya dan Inovasi Hijau
Mengayuh
becak di trotoar Malioboro atau menyusuri gang-gang kampung Yogyakarta pernah
menjadi simbol romantis perjalanan kota. Namun di balik keindahan itu terselip
kenyataan bahwa pengayuh menghadapi tekanan berat: persaingan dari kendaraan
bermotor, beban fisik yang tinggi, dan juga persoalan emisi dari versi
bermesin. Untuk menjawab tantangan tersebut, terbentang ide transformatif, yaitu mengubah becak menjadi kendaraan listrik melalui sebuah gerakan sosial yang
menempatkan pengayuh sebagai pusat inovasi.
| Sumber gambar: GNFI |
Gagasan
ini, yang dikemukakan oleh Syahrul Awalludin Sidiq dari Daerah Istimewa
Yogyakarta, berhasil mendapat pengakuan publik lewat penghargaan Apresiasi SATU
Indonesia Awards 2024 di bidang teknologi. Ia mengusung program “Becak Listrik
dengan Konsep Sosial Movement untuk Penunjang Ekonomi Tukang Becak” sebagai
upaya menyelaraskan aspek lingkungan, sosial, dan budaya dalam satu rungkaian
inovasi yang inklusif.
Teknologi
dan Inklusivitas, Perpaduan dalam Merancang Becak Listrik
Di
balik gagasan teknis terdapat filosofi pemberdayaan. Selain menempelkan motor
listrik ke rangka becak, juga merancang kendaraan baru dengan melibatkan
pengayuh, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan komunitas lingkungan sebagai
mitra sejajar. Syahrul, melalui perusahaan Astrobike yang sebelumnya menyorong
pengembangan sepeda listrik, menyatakan bahwa transformasi mobilitas perkotaan
harus berbasis kebutuhan masyarakat dan prinsip keadilan sosial.
Sebagai
contoh nyata, Astrobike menggandeng Universitas Ahmad Dahlan untuk menjalin
nota kesepahaman dalam riset dan edukasi. Kolaborasi ini memfasilitasi
eksperimen teknis, uji coba baterai, sistem pengisian daya, dan aspek ergonomi
kendaraannya agar nyaman bagi pengayuh sehari-hari.
Salah
satu inspirasi awal adalah proyek “Becak Stroom”, hasil kolaborasi komunitas
Jogja Lebih Bike bersama Astrobike. Becak Stroom memakai motor listrik yang
bisa menempuh jarak sekitar 30 kilometer per pengisian, cukup untuk melayani
rute harian dalam kawasan kota. Pengisian dilakukan lewat soket listrik rumah
tangga, memudahkan pengayuh tanpa perlu infrastruktur rumit.
Namun
yang lebih penting adalah bahwa pengayuh dilibatkan sejak tahap desain. Mereka
menyuarakan kebutuhan, misalnya kemudahan menghadapi tanjakan, kestabilan
beban, akses ke perawatan, dan kenyamanan penumpang. Pada aspek finansial,
lembaga keuangan lokal diajak menyediakan skema kredit lunak sehingga pengayuh
tidak menanggung beban pengadaan armada secara penuh sekaligus.
Dengan
demikian, program ini bukan hanya proyek teknologi, melainkan gerakan sosial
yang menyasar transformasi budaya transportasi dan kondisi ekonomi pengayuh.
Implementasi
Lapangan, Tantangan, dan Prospek Replikasi
Sejak
2023, Pemerintah Kota Yogyakarta memulai pilot program penggantian becak
bermotor (bentor) di kawasan Malioboro dengan unit becak kayuh listrik. Tahap
awal meluncurkan 50 unit, kemudian dilanjutkan 40 unit pada 2024, dan
direncanakan tambahan 50 unit pada 2025. Unit-unit ini setiap satuannya menelan
biaya sekitar Rp 50 juta per unit. Sebuah angka yang tidak kecil, tetapi
dianggap investasi berkelanjutan untuk kawasan sumbu filosofi yang kini
diharapkan menjadi kawasan rendah emisi.
Para
pengayuh telah mencoba merasakan langsung manfaat, misalnya dorongan lebih
ringan, respon yang cepat di tanjakan, dan biaya operasional jauh lebih rendah
dibandingkan beban mesin bensin. Karena motor listrik tidak memerlukan bahan
bakar fosil berkelanjutan, dan emisi langsungnya nol, proyek ini juga menjadi
bagian dari strategi Yogyakarta menjaga udara bersih di kawasan wisata.
Agar
operasional menjadi lancar, pemerintah menyediakan stasiun pengisian daya
strategis dan program pelatihan perawatan bagi pengayuh. Meski demikian, fase
transisi ini masih menghadapi hambatan, yaitu resistensi dari mereka yang takut
teknologi baru, kurangnya pemahaman teknis, dan tantangan sosial budaya
(misalnya rasa gengsi atau khawatir tidak diterima di kalangan penumpang).
Karena itu sosialisasi intensif dan pendampingan menjadi kunci agar manfaat
inovasi ini dirasakan secara nyata.
Nilai
penting dari pendekatan berbasis gerakan sosial ini adalah bahwa perubahan
tidak dijalankan secara top-down semata, melainkan melalui partisipasi langsung
pengayuh, kolaborasi lintas stakeholder, dan edukasi masyarakat. Kampanye
publik seperti “Becak Listrik untuk Yogyakarta Bersih” diinisiasi oleh
komunitas lokal, pegiat lingkungan, dan pengguna sepeda listrik. Semuanya
mengedepankan manfaat kesehatan, kenyamanan, dan memperkuat citra kota sebagai
destinasi ramah lingkungan.
Penghargaan
SATU Indonesia Awards 2024 menjadi momen simbolik bahwa inovasi ini bukan
sekadar ide idealis, melainkan usaha nyata yang dipandang layak pantas
diapresiasi nasional. Bagi Syahrul dan timnya, penghargaan tersebut memperkuat
momentum untuk memperluas jangkauan ke kota-kota lain yang masih mengandalkan
becak tradisional sebagai moda wisata atau transportasi lokal.
Replikasi
konsep ini di kota lain tentu perlu penyesuaian local, seperti karakter rute
kota (apakah banyak tanjakan), tingkat permintaan wisata bagi rutenya, dukungan
regulasi dari pemerintah daerah, serta kesiapan sosial pengayuh dan masyarakat
pengguna. Kota-kota seperti Semarang, Solo, serta kawasan wisata di Bali bisa
menjadi lokasi potensial untuk adaptasi konsep becak listrik berbasis
pemberdayaan.
Secara
keseluruhan, gerakan becak listrik ini menunjukkan bahwa teknologi bisa hadir
tanpa memutus akar budaya, melainkan mendampinginya, memodernisasi tanpa
kehilangan identitas. Yogyakarta, dengan warisan becaknya, memulai langkah
strategis untuk menjaga warisan sekaligus mengikuti tuntutan era hijau. Jika
disertai kolaborasi kuat antara pemerintah, perusahan rintisan seperti
Astrobike, komunitas lokal, dan tentu saja para pengayuh, maka transisi
terhadap becak listrik bisa menjadi ikon baru mobilitas kota yang ramah
lingkungan dan berdaya sosial tinggi.
Ke
depan, tantangan terbesar mungkin bukan lagi teknologi, melainkan
mempertahankan semangat gotong royong agar beban perubahan tak hanya ditimpakan
ke pengayuh. Namun, bila semangat kolaborasi tetap dijaga, becak listrik bisa
menjadi pionir transformasi transportasi kota-kota di Indonesia. Selain sebagai
moda transportasi elektrik, juga menjadi simbol bahwa inovasi yang berakar pada
nilai lokal dan berbasis pemberdayaan dapat membawa dampak luas, dari sisi ekonomi
hingga budaya dan lingkungan.
Comments
Post a Comment