Benarkah Ibu Rumah Tangga adalah Perempuan yang Tidak Bekerja?

 Malam itu, setelah makan malam di rumah, saya mendengar suara ribut-ribut di luar. Suaranya seperti orang yang sedang berteriak. Bukan hanya satu, tapi ada beberapa suara. Tidak biasanya ada keributan di lingkungan tempat tinggal saya. Saya terkejut, cemas, sekaligus penasaran. Ada apa?

Saya pun buru-buru ke depan. Khawatir ada sesuatu yang membahayakan lingkungan. Kebakaran, misalnya. Duh, jangan sampai!

Begitu sampai di luar, saya lebih terkejut lagi. Ada Mbak Indira, tetangga yang tinggal di depan rumah. Dia sedang berteriak-teriak sambil menangis, tepat di depan rumahnya. Mas Umar, suaminya, sedang membujuknya untuk masuk ke dalam rumah. Namun, semakin dibujuk, teriakan dan tangisan Mbak Indira semakin kencang. Mas Umar pun jadi kewalahan.

Semakin lama, semakin banyak tetangga yang berdatangan. Mereka sama dengan saya, terkejut dan penasaran dengan hal yang terjadi. Namun, setelah tahu bahwa ini adalah urusan rumah tangga, saya jadi malu. Saya pun memutuskan untuk cepat-cepat masuk lagi ke dalam rumah. Biar saja Mbak Indira dan Mas Umar menyelesaikan masalah rumah tangganya sendiri.

Ibu Rumah Tangga yang Tidak Bekerja

Beberapa hari kemudian, dari tetangga yang lain, saya tahu masalah yang terjadi antara Mbak Indira dan Mas Umar. Rupanya, Mbak Indira sedang mengalami stres karena terlalu lelah mengurus rumah tangga.

Saya menghela napas. Saya bisa mengerti. Mbak Indira dan Mas Umar masih punya tiga balita. Sebagai seorang ibu rumah tangga, saya tahu, mengasuh satu balita saja repotnya minta ampun, apalagi tiga. Pekerjaan rasanya tidak pernah habis. Sejak bangun pagi, sampai menjelang tidur malam, tidak pernah berhenti melakukan segala hal. Itu pun, saat tidur, tidak bisa terlalu nyenyak karena balita bungsu mereka meminta susu pada jam-jam tertentu, selama jam tidur malam.

Saya jadi ingat, beberapa bulan lalu Mbak Indira pernah mengeluh. Rumah berantakan, sehingga harus terus menerus dibereskan, makanan juga cepat habis karena ada banyak perut yang harus diisi, sehingga Mbak Indira harus memasak berkali-kali.

Sebelumnya, Mbak Indira adalah pekerja kantoran. Boleh dibilang, Mbak Indira adalah perempuan idaman perempuan lainnya. Karirnya bagus, cantik, tampak selalu ceria, dan cerdas. Ketika Mbak Indira dan Mas Umar berada di kantor, ketiga balita mereka diasuh oleh seorang pengasuh anak.

Namun, sekitar satu tahun yang lalu, ibu Mas Umar mengalami sakit parah dan harus menjalani masa pengobatan. Ibu Mas Umar pun harus tinggal bersama keluarga Mas Umar.

Setelah berdiskusi dengan sang suami, akhirnya Mbak Indira memutuskan resign dari kantornya, agar bisa fokus membantu pengobatan ibu mertuanya. Setelah resign, terjadilah perubahan besar pada kehidupan Mbak Indira.

Mbak Indira memang tidak bekerja lagi, tapi ternyata pekerjaan yang harus dilakukan, jauh lebih banyak.

Tiga kali dalam seminggu, Mbak Indira mengantar ibu ke rumah sakit. Sejak resign pula, keuangan keluarga menurun. Jadi Mbak Indira dan Mas Umar harus rela tidak mempekerjakan lagi pengasuh anak, sehingga Mbak Indira pula yang harus mengasuh ketiga balitanya. Setiap hari, Mbak Indira harus mengantar jemput anak-anaknya berangkat dan pulang sekolah.

Mereka juga harus cermat mengatur jadwal. Mbak Indira mengantar ibu ke rumah sakit, setelah mengantar anak-anak ke sekolah. Mbak Indira juga harus berkoordinasi menitipkan anak-anak ke tetangga, kalau belum bisa pulang karena pengobatan ibunya belum selesai. Saya termasuk salah satu tetangga yang pernah dititipi anak-anak Mbak Indira.

Lalu, Mas Umar ke mana? Nah, setelah Mbak Indira resign, Mas Umar memutuskan menambah pekerjaan, untuk “menambal” pemasukan mereka yang “bolong” karena Mbak Indira sudah tidak berpenghasilan lagi. Mas Umar pun menyambi menjadi driver taksi online, setelah selesai jam kantor.

Berada di rumah sepenuhnya, membuat kehidupan Mbak Indira jauh lebih sibuk daripada ketika masih bekerja di kantor. Belum lagi ibu mertuanya, yang butuh diperhatikan dan diperlakukan secara khusus karena sedang sakit. Lama kelamaan Mbak Indira lelah, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara mental.

Ibu Rumah Tangga Juga Bekerja

Ada yang masih menganggap bahwa ibu rumah tangga itu tidak bekerja? Ada yang masih menyepelekan profesi ibu rumah tangga?

Detik ini juga, mulailah menghargai profesi tersebut. Sebab, ibu rumah tangga sering kali menanggung beban ganda. Pekerjaan mengasuh dan mendidik anak, membersihkan rumah, menyiapkan makanan, mengatur keuangan, secara logika, terlalu berat bila hanya dilakukan oleh satu orang. Belum lagi kalau ada anggota keluarga lain yang harus diurus. Dalam kasus Mbak Indira, adalah ibu mertuanya.

Sebuah perusahaan saja memiliki banyak karyawan yang ditempatkan di posisi keuangan, operasional, marketing, dan lain-lain. Sementara, di dalam rumah tangga, semua posisi ini ditangani oleh satu orang, yaitu ibu rumah tangga.

Miris banget, kan? Pekerjaannya banyak, tidak diberi gaji, bahkan masih banyak orang yang kurang menghargai. Padahal, banyak hal yang jadi beres karena kegesitan ibu rumah tangga. Sebaliknya, banyak hal jadi berantakan karena ibu rumah tangga tidak ikut turun tangan.

Cara Menghargai Ibu Rumah Tangga

Benar, lho, ibu rumah tangga sangat butuh dihargai. Perempuan yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga, kadang-kadang memang pilihan sendiri, tapi banyak juga yang terpaksa, karena tidak ada pilihan lain. Dan, mereka tidak diberi gaji. Betul, mereka memang tidak mengharap dibayar, tapi sayangnya, orang-orang di sekitarnya malah terkesan “meremehkan” dan “menggampangkan”.

Sudah waktunya kita bersama-sama menghargai para ibu rumah tangga. Caranya bagaimana? Begini:

Mengakui

Yaitu mengenali bahwa semua aktivitas yang dilakukan oleh ibu rumah tangga itu bernilai produktif untuk mencapai kesejahteraan psikologis, fisik, dan sosial. Lalu, mengakui bahwa apabila aktivitas tersebut tidak dilakukan, dapat mengganggu atau menurunkan kondisi psikologis, fisik, hubungan sosial, dan produktivitas.

Percayalah, kalau semua orang di lingkungan sekitar melakukan hal ini, ibu rumah tangga pun merasa dihargai, merasa nyaman, dan akhirnya memiliki energi lagi untuk melanjutkan aktivitas yang seperti tiada habisnya itu.

Mengurangi

Yaitu mengurangi beban peran ganda perempuan dalam tugas perawatan melalui pelibatan setara dari pihak yang berkepentingan. Dalam kasus Mbak Indira, misalnya, kurangi bebannya dengan berbagai cara. Bisa dengan meminta bantuan orang lain yang terpercaya dalam mengantar jemput anak, bisa juga dengan cara lain.

Mendistribusi

Yaitu mendelegasikan berbagai pekerjaan, pada pihak lain yang sesuai. Masih dalam kasus Mbak Indira, redistribusi ini misalnya memindahkan tanggung jawab antar jemput ibu yang sakit ke rumah sakit, pada suaminya. Jika memungkinkan, suami bisa mengatur waktu atau minta izin sebentar dari kantor untuk mengantar ibu ke rumah sakit. Cara lain, bisa mendelegasikan pekerjaan rumah tangga pada asisten rumah tangga, dengan konsekuensi menambah pengeluaran untuk gaji ART tersebut.

Masih banyak hal lain yang bisa dilakukan, untuk meringankan beban perempuan-perempuan yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga, terlebih yang memiliki peran ganda. Kalau saja orang-orang di lingkungan sekitar menyadari hal ini, ibu rumah tangga akan lebih ringan, baik beban fisik maupun psikis. Pada akhirnya, kejadian seperti yang dialami Mbak Indira, bisa dicegah.

Butuh waktu lama dan keterlibatan semua pihak untuk bisa menciptakan lingkungan masyarakat yang lebih menghargai profesi ibu rumah tangga. Namun, semuanya bisa dimulai dari lingkungan terkecil kita masing-masing, yaitu keluarga.

 

Comments

Popular posts from this blog

Mata Kering dan Kenangan tentang Perempuan Hebat

Mengenal Alpha Female dan Ciri-cirinya